Buku Adalah Jendela Dunia

Tuesday, August 30, 2016

"Buku adalah jendela dunia." pepatah barusan melekat banget dalam ingatan sewaktu saya duduk di bangku sekolah dasar. Mulai dari majalah, buku cerita atau komik baik dalam maupun luar negeri punya menjadi teman setia saya sehari-hari. Tak jarang, awal bulan setelah gajian, bapak mengajak saya dan adik pergi ke toko buku satu-satunya di kota kami [red: Tarakan]. Jangan ditanya betapa girangnya kami saat itu, karena di sana saya bebas memilih buku apa saja yang kami mau. Sekarang pun, kalo diajakin ke toko buku juga masih girang kok, meskipun tumpukan waiting list yang kudu dibaca semakin tinggi...hihihi yang ini jangan ditiru yak.

waiting-list-to-read
tumpukan buku yang belum dibaca, don't try this at home >.<
Memori bacaan masa kecil itu tak lekang oleh waktu, pastinya kalian yang seangkatan dengan saya juga setuju kalo cerita unik di balik bacaan-bacaan lawas pastinya membangkitkan kenangan manis masa kecil kalian. Iya apa iya? Contohnya seperti:
1. Rental Buku, Gimana Kabarnya?

rental-buku-90an
rental buku [source: kaskus]
Rental atau tempat persewaan buku, hayooo siapa dulunya sehabis pulang sekolah rajin nongkrong ke tempat-tempat persewaan buku? Meskipun buku yang disewakan rata-rata ialah buku bacaan bukan buku pelajaran, tetap aja hal tsb menurut saya bernilai positif. Setidaknya dengan berjamurnya rental buku di pelosok kota, menandakan minat baca generasi 90an itu masih tinggi dibanding sekarang.
"10% masyarakat Indonesia yang berusia di bawah 10 tahun gemar membaca, sedangkan sisanya 90% penduduk gemar nonton televisi dan tidak suka membaca. Hal tsb berarti minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah."
Hah? Kaget? Sama, saya juga. Hal tsb diungkapkan oleh Kepala Kantor Perpustakaan Nasional RI Sri Sularsih dalam acara Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca 2015 silam. Terpampang nyata sih emang, kebiasaan zaman saya sekolah dulu dengan anak sekarang [pada umumnya]. Contoh kasat mata nih ya, sepulang sekolah banyakan nongkrong di pusat keramaian, menghabiskan waktu sore di tempat bermain yang letaknya di dalam mall. Digandang-gadang hal tsb ini lah yang menyebabkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, menteri hasil reshuffle kabinet Jokowi yang baru, ujug-ujug melontarkan wacana full day school, eitssss. "Kalo udah gini salah siapa? Salah gue? Salah teman-teman gue?" [halah].

2. Majalah Bobo
Bobo "Teman Bermain dan Belajar" [source:koleksitempodoeloe]

Bacaan favoriiit banget ini! Berisikan beragam rubrik khas anak-anak, hal ini lah yang menjadikan mami [panggilan untuk ibu saya], memutuskan untuk berlangganan majalah anak-anak Bobo. Iya Bobo, majalah anak dengan sejuta cerita khas anak-anak di dalamnya. Ada cerita pendek, cerita bersambung, cerita negeri dongeng Nirmala, cerita sehari-hari Paman Kikuk, atau Si Bona dan RongRong. Masih ingat kan kalian? Dan asiknya lagi nih, majalah anak yang terbit tiap bulan [kalo nggak salah sih] ini, selalu menyediakan bermacam-macam bonus. Biasanya sih bonus-bonus yang dihadirkan pun mengajarkan anak seusia SD untuk belajar kreatif. Contoh, bonus hiasan komedi putar yang belum dirakit. Jadi nih, bonusnya masih berupa lembaran kertas warna-warni yang harus kita rakit sendiri sesuai petunjuknya. Seru kan? Nggak salah kalo dulu saya dan adik selalu berebut untuk memiliki bonus lucu tsb. Sehingga mami pun membuat aturan, tiap bulan bonus dari majalah Bobo dapat dimiliki secara bergantian, supaya kami nggak berantem muluk hahaha.

3. Sayang Adik, Sayang Adik.

saat berlibur di Malang
Karena hobi membaca ini saya dan adik saya itu bisa dikatakan dekat banget, bahkan kalo berantem pun saya rela digigit atau dipukul olehnya. Lebih garang dia sih yak haha. Bekas gigitan pun meraja rela di lengan saya, bak KDRT dah dulu. Tapi kita tetap kompak, siang-siang tuh saya selalu berkomplot dengannya untuk mengelabui kakak, disuruh tidur siang siiih hahaha sama ya kek anak sekarang susah bobok siang.

Dan kalo waktu liburan pendek tiba, saya dan adik rajin mengunjungi perpustakaan sekolah yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal kami. Keren ya, dulu perpustakaan sekolah tempat kami menimba ilmu tetap beroperasi saat liburan pendek tiba. Menandakan lagi, bahwa anak zaman dulu minat bacanya masih tinggi. Noddy karakter fiksi karangan penulis luar Enid Blyton menjadi bacaan anak-anak favorit kami selain Bobo dan selalu masuk dalam daftar buku yang rutin kami pinjam dari perpustakaan tsb. Hingga suatu hari selepas meminjam buku dari perpustakaan, adik tak sengaja menjatuhkan buku Noddy ke dalam parit besar.

Noddy, duh kangen banget masa kecil [source: dailymail]
"Aduh, Ning...Ning, bukunya jatuh!" pekik adik.
Ia berteriak, arus yang lumayan deras membuat buku tsb hanyut terbawa air. Sontak saya langsung aja menceburkan diri ke dalam parit, untuk bergegas mengambil buku yang terjatuh tadi agar tidak jauh hanyut terbawa arus. Eitsss, tapi jangan bayangkan paritnya kotor, butek dan berbau yak. Parit di sana [red: Kalimantan] besar dan tidak berbau, jernih pulak airnya. Kadang saya bermain di dalamnya hahaha ketauan ya masa kecil saya nakal banget.

Buku adalah jendela dunia, pun jendela kedekatan antara saya dan adik. Meskipun sering berantem rebutan buku bacaan, namun beragam peristiwa yang kami lalui bersama membuat saya dan adik begitu akrab karena buku bacaan. Bahkan, cerita buku nyemplung ke parit tadi menjadi rahasia masa kecil kami, pulang-pulang buku yang basah terkena air tadi saya keringkan menggunakan hairdryer milik mami hahaha. Kebayang kan kalo ketahuan, anak-anak macam saya dulu pastinya takut kena omelan, belum lagi kalo ketahuan saya yang tadi nyemplung ke parit, kena pasal berlapis bisa-bisa hahaha.

Pahit manis memori tadi menginspirasi saya, kelak akan saya kenalkan buku bacaan kepada anak-anak saya nantinya. Tentunya yang sesuai dengan usianya, agar esok ia punya cerita manis seperti saya dan adik, yang tak kan lekang oleh waktu.

You Might Also Like

16 happy thoughts

  1. Aku dulu suka koleksi komik cantik n teenlit,, tak sayang-sayang banget, sampe akhirnya direcokin adikku trus bukunya kececer dimana-mana. Tapi karena kebiasaanku, adikku juga suka baca buku terutama komik cantik, padahal dia cowok, haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi iya kadang cowok suka juga. Mereka suka, karena jalan ceritanya yang easy going mungkin ya.

      Delete
  2. gagal fokus dengan mbak ning waktu kecil...hehehehe...lucuk, manis sampe sekarang..., btw semua pada suka majalah bobo ya...

    ReplyDelete
  3. La Noddy itu sampai aku berburu di lapak buku bekas mbak. Afif & Lantip saat balita paling suka didongengin buku ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuahhh, Lantip juga suka ya mba? Seru emang bacaannya Noddy ini.

      Delete
  4. ya Allah aku banget dulu rental komik wkwkwkkwkw
    dulu perasaan seenang banget beli komik skrg kok ora yo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihhii...aku dulu komik cantik yang berseri2 juga jarang baca mba, sukanya Doraemon yang kupinjam wkwkwk. Lucu sih, adaaa aja idenya Nobita iu

      Delete
  5. buku sekarang mahal pake bingitssss... majalah aja sekarang buset dah harganya... Tapi masih tetap suka baca walau sering target baca di goodreads meleset jauh :)))))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh bener mba, beli majalah sekarang mikir "Hmmm di internet juga ada kali ya." hihihi

      Delete
  6. udah lama banget sih gak ke rental buku atau taman bacaan, tau deh masih ada apa gak ya sekarang, kayaknya sudah susah mencarinya kalo di sini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, lama banget nggak ngeliat rental buku. Sepertinya emang udah nggak ada huhuhu

      Delete
  7. Iya dulu sering bgt ke rental komik, hampir tiap hari. Trus, duduk berjejer baca barengan di kost. Skrg mah udah susah bgt nyari rentalan komik. Udah ga ada kali ya.


    ReplyDelete
    Replies
    1. Hu'uh, udah nggak ada sepertinya. Seru ya padahal.

      Delete
  8. BOBO, sahabat anak-anak lintas generasi :)

    ReplyDelete

Thank you for reading, and commenting #beYOUtiful

Friends of mine

Facebook Pages

Instagram